TANTRUM PADA ANAK ; KEKELIRUAN DALAM MENYIKAPI KEADAAN
- gentagerakannyata
- Mar 23, 2024
- 2 min read

Kita seringkali keliru dalam menyikapi keadaan. Bukan melihat pada penyebab tapi kerap mengomentari akibatnya, seperti menghadapi anak tantrum.
Pertama-tama yang harus kita tahu adalah apa yang dimaksud dengan tantrum itu sendiri. Tantrum adalah tindakan agresif yang dilakukan oleh anak akibat anak sulit untuk mengungkapkan apa yang mereka inginkan dan butuhkan. Istilah ini digunakan ketika anak menangis, merengek, menjerit, menendang, atau memukul. Kondisi ini biasanya terjadi pada balita usia 1 sampai 3 tahun. Anak yang tantrum umumnya disebabkan oleh rasa kesal, marah, dan frustasi. Bisa juga muncul karena anak merasa lelah, lapar, dan tidak nyaman.
Tindakan agresif tersebut terjadi akibat anak sulit untuk mengungkapkan apa yang mereka inginkan dan butuhkan. Namun seiring bertambahnya usia, kemampuan berbahasa anak akan semakin meningkat. Selain itu, anak juga lebih mampu untuk mengendalikan emosi yang katanya sebagai salah satu tahap perkembangan sosial emosional anak usia dini.
Apakah lantas tantrum ini dianggap wajar dan boleh dibiarkan ???. Tantrum dengan banyak alasannya jika dibiarkan akan menjadi karakter pada anak, karena kebiasaan mengungkapkan yang berapi-api dan tidak terkontrol akan menjadi pola agresif yang tidak peka pada lingkungan sekitar.
Hal ini tentunya akan menimbulkan masalah pada anak dikemudian hari. Kecenderungan untuk selalu didengarkan akan menghilangkan pemikirannya bahwa ada juga saatnya untuk mendengarkan maka egosentris akan menguasai pola fikir dan tingkah laku anak dilingkungannya.
Lantas apakah pelukan atau dekapan erat yang tegas, membuat aturan dasar jika akan keluar rumah, bahkan menyediakan mainan untuk mengalihkan perhatiannya merupakan hal yang penting ???.
Mungkin kita lupa bahwa anak adalah pribadi yang memiliki keinginan termasuk untuk didengarkan. Banyak orangtua yang asyik dengan dunianya sendiri terutama dengan maraknya penggunaan telepon seluler, sehingga pada saat anak menyampaikan keinginannya mereka kerap diabaikan sehingga anak melakukan tindakan agresif ini karena tidak didengarkan. Keterbatasan komunikasi pada anak bukan menjadi alasan bagi orangtua yang mau meluangkan waktunya untuk mendengarkan karena komunikasi antara orang tua dan anak bukan hanya melalui bahasa verbal namun juga melalui bahasa hati.
Komunikasi yang baik dan terbangun antara orang tua dengan anak, merespon dengan cepat dan utamakan untuk mendengar apa yang diinginkan oleh anak merupakan langkah awal untuk menghindari tantrum. Ketanggapan kita merespon keinginan anak akan membuatnya tenang. Respon dengan baik jika keinginan anak bisa kita penuhi dan berikan penjelasan yang baik, membuatnya memahami alasan kita jika yang anak inginkan tidak dapat kita berikan.
Kunci keberhasilan adalah komunikasi yang baik, dan awal semua masalah adalah komunikasi yang buruk, perhatian yang kurang dan pemahaman yang sempit yang kerap menjadi kekeliruan dalam menyikapi keadaan.
Ria Soeroso (Consultant Public)
Ketua GENTA.ORG - gerakannyata_untukIndonesia




